Jumat, 23 November 2012

0 Tak senikmat hisapan Tembakau ituu


Gemercik air hujan pagi ini memberikan kesejukan yang terasa mendera dalam sebuah pergeliatan maya dan asa. Asa ini terus mengalir dalam rebahan yang terus menggelayuti temaram lampu-lampu neon yang menemani setiap pejalanan asa seorang petani yang menelusuri jengkal-jengkal tanah pematang dengan penuh pengharapan untuk mendapatkan hasil dari perut bumi yang sangat ia idam-idamkan.

Dalam penggelayutan menatap daun-daun tembakau yang siap untuk dipanen, setelah 3 bulan dibelai dalam buaian manja pak tani yang sudah renta namun masih punya asa dalam membaharui kehidupan anak cucunya. Sebut saja pak Umar, seorang yang usianya lebih dari 70 tahun dan ikut berjuang dalam perang kemerdekaan yang kini dikaruniai 4 orang anak dan seorang cucu. Anak pertama laki-laki dan susudah lulus SMP menikah, sedang ketiga adecknya cew dan masih duduk dibangku SD dan SMP, dan semuanya menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian warisan dari kakek buyutnya yang hanya sebesar 70ru atau ¼ Ha.

Para petani pada umumnya sangat bersemangat ketika musim panen tiba, namun tak begitu dengan pak umar dan petani tembakau lainya. Harga tembakau untuk tahun ini terjun bebas diangka Rp. 15,000 untuk tembakau kering dan seribu rupiah untuk tembakau basah di pohon. Dari tanah pak umar menghasilkan tembakau basah maksimal 1,5 ton. Dan jika di kurs kan denga harga seribu rupiah hanya menghasilkan Rp 1.500.000; itupun setelah proses hampir 4 bulan. Sungguh dilemma yang teramat dalam.

Pak umar pun mengigau tentang keadaan harga tembakau 2 tahun yang lalu dimana untuk kering tembus sampai Rp. 100.000; dan harga normal dipasaran untuk perhitungan BEP adalah Rp. 35.000; untuk tembakau kering. Tapi apalah daya meskipun harga rokok terus merangkak naik tapi tembakau malahan turun. Sunguh kacau balau kondisi masyarakat kecil dan kaum buruh yang ada di negeri ini.

Dipinggiran sungai kecil yang membelah hamparan sawah yang teramat luas umar menggelayut dalam tekanan dan beribu tanda tanya. Kenapa para pembesar senang dengan penderitaan kami, tak adakah secercah perasaan yang memberikan sebuah keadilan social seperti yang didengungkan sang proklamator dalam perang kemerdekaan yang lalu.
Dan kenapa “kata gemah ripah loh jinawi” dan “asah –asih, sambang-sambung” tak pernah melambung dalam membntuk sebuah zona perekonomian untuk mensejahterakan rakyat sesui apa yang menjadi penyatu kekuatan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Kamis, 12 Juli 2012

0 Kakang Mbakyu, Aset Daerah dalam genggam Pemuda

Rabu malam tanggal 4 Juli 2012, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Tulungagung, menggelar malam Grand Final Kakang Mbakyu Tulungagung, bertempat di Pendopo Kongas arum kusumaning Bongso. Kegiatan yang dihadiri hamper semua kalangan mulai dari pelajar, masyarakat umum dan pejabat ini. menobatkan Yoga Alfian F. sebagai Kakang Tulungagung dan Mahendri Putri Sholikhah sebagai Mbakyu Tulungagung. selain menobatkan kedua finalis sebagai Duta wisata . malam grand final tersebut juga memberikan anugrah Duta Lalulintas yang diraih oleh Yasmin Nur Hazizah.

Kepada admin, Yoga-Kakang Tulungagung. menuturkan pihaknya ingin memajukan serta mempromosikan pariwisata Tulungagung dan membuat orang Tulungagung bangga terhadap Pariwisatanya. serta memberikan himbauan kepada seluruh pemuda agar bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia, dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Sedangkan Mbakyu Tulungagung, Mahendri Putri. menyampaikan hal yang yang lebih teknis terkait dengan strategi promosi wisata tulungagung. yakni dengan mendatangai tempat pariwisata kemudian mengUpload, just one Clik . dan dia akan lebih memfokuskan kepada pariwisata dalam sector budaya. mengingat Tulungagung menyimpan banyak sekali sejarah yang berkaitan dengan Indonesia.

Sementara itu. Bupati Tulungagung-Heru Cahyono. berpesan kepada para pemenang. untuk lebih meningkatkan pemahamanya terhadap kemampuan berbahasa dan teknik menyampaikan promosi wisata. serta berharap Para pemenang mampu menjadi Inspirasi bagi para pemuda yang ada di Tulungagung.

Program ini sangat menarik untuk memberikan pembelajaran, dan sebagai media kepada pemuda untuk memupuk keterampilan dan keberanian sekaligus menciptakan tokoh muda yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi Tulungagung.
Namun, masih banyak pertanyaan yang menyertai Pariwisata Tulungagung, agar semakin berkembang. Gmana yaa enaknya...

Sabtu, 30 Juni 2012

0 Sumpek dalam kota Tulungagung, tidak perlu bingung !!!

"Wah malas jalan jauh, tapi pingin refreshing". Itu hal yang sering terungkap dari bibir manusia yang berada di tengah-tengah sebuah kota.
Namun hal ini tidak akan pernah anda rasakan jika anda berada dalam kota Tulungagung, Jawatimur. Sebab taman kota Tulungagung telah di didisain sedemikian rupa hingga membuat siapapun krasan dan nyaman berada di sana.

Aloon-Aloon Tulungagung atau yang lazim disebut dengan "TAMAN KUSUMA WICITRA", menyuguhkan berbagai menu yang menarik dan indah untuk melepaskan penat siapapun yang berada didalamnya. Ruang terbuka hijau yang diapit oleh kontraan wakil rakyat, gubug pemegang tongkat dinasti NGROWO, dan rumah Alloh termegah di Tulungagung ini menyuguhkan hamparan pemandangan hijau yang alami bukan sintetis, yang sering dipakai artis-artis bagaian tubuh hingga terlhat dramatis dan menarik.
Memang tak semenarik maklhuk indah ciptaan tuhan yang selalu berada dalam hati kita. namun ada simbol keabadian ssebuah hubungan, yakni ribuan burung merpati berkeliaran kesana-kemari seolah mengajak kita untuk kembali mencintai ciptaaNya yang lain serta bernostalgia dengan masa-msa kecil yang indah.
Buat yang memang benar-benar masih anak-anak, atau yang sudah beranak pinak. Jangan khawatir. Menu taman kusuma wicitara berlanjut ke taman out bond for children. dan hamparan tanah liat yang mantab untuk "kipu" dalam bahasa jawa. atau bermain tanah.
Selain bermain, taman kusumawicitra juga sangat nyaman untuk kegiatan edukasi, bisa berkelompok ataupun sendirian (itupun kalau berani, heheheh) karena selain selain tempat yang nyaman dan segar. disebrang taman kusumawicitara juga berdiri dengan megahnya, PERPUSTAKAAN daerah selain area yang juga didukung free Wi Fii.
Sebenarnya, masih banyak hal tentang Taman Kusuwicitra atau Aloon-Aloon Tulungagung yang belum saya tulis, tapi sudahlah sampai disini saja dulu.

Kalau anda tertarik, datang saja.
Saya yakin anda puas, meskipun sesungguhnya bukan alat pemuas. qiqi
Salam Hijau...


Jumat, 29 Juni 2012

1 Mbunusnya BULUS Brantas di Tulungagung

Tulungagung dilalui oleh salah satu sungai legendaris Dunia, Kali Brantas namanya. Massa lalu telah menggambarkan pertempuran yang hebat dan adu strategi pertempuran pada era kerajaan di Nusantara.
Taukah anda, Kali Brantas mempunyai spesies endemik, atau spesiaes asli. yakni Bulus Brantas. Dimana hari ini telah menghilang dari Kali Brantas Tulungagung. Dahulu bulus brantas menjadi sahabat masyarakat sekitar bantaran sungai brantas, dan menjadi sahabat yang asyik untuk bermain di kali. Namun hari ini tergantikan raungan diesel dari pompa-pompa yang menyedot pasir brantas.
Komunitas Peduli Kali Tulungagung. mengungkapkan, Bulus Brantas hilang di Tulungagung karena mereka tak lagi nayaman dengan habitat yang ada. Hal ini merupakan imbas dari Penambangan Pasir , Pembangunan sungai secara mekanik dan Pencemaran sungai baik dari Rumah tangga, maupun Industri. Tulungagung belum mempunyai IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) secara komunal. dan yang lebih memprihatinkan adalah perusahaan yang ada di Tulungagung membuang limbahnya tanpa proses IPAL yang benar.
Bahkan, Komunitas Peduli Kali Tulungagung menyampaikan Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas di Tulungagung yang meliputi Kali Ngrowo, Song dan Ngasinan. juga kehilangan spesies ikan Endemic. seperti , Mujaer, Bekel, Silli, Bethok, Kuthuk atau Gabus, Tawes, Bethik dan Bethem. nyaris punah. yang membanjiri tiga serangkai sub DAS hari ini merupakan sungai yang ditebar oleh pemerintah dan masyarakat yang peduli kali. meliputi kething, mujaer dan nila.

Komunitas Peduli Kali Tulungagung memberikan sebuah analisis bahwa, Harus ada penganan dan tindakan yang jelas dari Multi Fihak, untuk menghadapi persolan kali brantas.
Dan pemerintah pusat harus turun tangan secara langsung, tidak hanya pemerintah daerah. Sebab Sungai Brantas adalah sungai strategis Nasional, yang pengelolaanya sesungguhnya pada pemerintah Pusat.

Selasa, 26 Juni 2012

0 Tulungagung jadi sasaran empuk pengedar NARKOBA luar daerah

Hari ini tanggal 26 Juni 2012 merupakan hari NARKOBA INTERNASIONAL. di Tulungagung sendiri narkoba merupakan musuh yang sangat berbahaya, khusunya di kalangan Pelajar dan pemuda. ini kata Kepala BNNK-Badan Narkotika Nasional Kab. Tulungagung- AKBP Ria Damayanti.
Paparnya, dalam melakukan pencegahan BNNK melakukan scaning, sosialisi dan desiminasi. dari tingkat SMP sampai dengan perguruan Tinggi.

Selain sosialisasi BNNK juga melakukan Pembentukan SATGAS yang terdiri dari berbagai fihak untuk bersama melakukan penangan dan penanggulangan penyebaran NARKOBA di Tulungagung. TRI ARIF-KASI PEMBERDAYAAN Masyarakat BNNK Tulungagung, menyampaikan. jaringan luar kota banyak yang masuk ke Tulungagung, melihat Banyaknya warkop, karaoke dan tempat hiburan. BNNK juga menuturkan dari hasil test urin dari bulan januari sampai Juni dengan sample 400. ditemukan 102 positif.
Dalam menyingkapi hal ini BNNK terus gencar melakaukan pemantauan dan penyelidikan, agar korban Narkoba tidak bertambah. Namun untuk yang ingin sembuh, BNNK dapat memfasilitasi rehabilitasi korban Narkoba. denganmengirimkan ke Panti rehabilitasi Lindaw-Jakarta.

Senin, 25 Juni 2012

0 Sampai-sampai pasar jadi sarang korupsi

Pasar merupakan tempat interaksi masyarakat, baik dalam melakukan interaksi sosial maupun interaksi Ekonomi. Area ini menjadi tempat tempat yang penting untuk masyarakat khususnya ekonomi kecil.
Tempat yang merakyat ini masih saja ditemukan pelanggaran tindak korupsi, khususnya terkait retribusi yang dilakukan oleh petugas pasar. seperti yang terjadi di pasar ngunut, dimana petugas pemungut restribusi dari UPTD memungut tanpa menyertakan karcis retribusi, atau kadang hanya diberi kwitansi tanpa stempel resmi. ini kata samsuri-Pegiat Anti korupsi di Kawasan Ngunut dan Rejotangan.
Pada tanggal 11 Juni 2012 yang lalu, pihaknya telah menhadap ke Kepala DISPENDA Tulungagung, Eko Asistono. dalam pertemuanya, Eko Asistono memberikan apresiasi positif, dan akan memberikan perintah untuk transparansi Restribusi di UPTD Pasar Ngunut.
Namun sangat berbeda adanya dengan yang terjadi di UPTD Pasar Ngunut. papar Samsuri. Kepala UPTD ngunut malah menunjukkan arogansi kepada masyarakat, dimana kepala UPTD menyampaikan dengan nada yang keras kepaada masyarakat. kalau tidak mau mengikuti mereka ya sudah. Menanggapi perlakuan yang tidak menyenangkan ini dan Pungli yang terus berlangsung. Samsuri bersama dengan masyarakat, akan segera melaporkan Oknum tersebut ke Kepolisian, Inspektorat, dan Instansi-instansi lain yang terkait.

Minggu, 24 Juni 2012

0 Wisata Inspiratif, kali Jenes

Bermunculan lokasi-lokasi baru, wisata kota di Tulungagung. salah satunya adalah bantaran kali Jenes, belakang PEMKAB Tulungagung.
Bantaran kali jenes menyajikan lukisan yang ada di tembok atau yang disebut dengan lukisan “MURAL” dengan tematik tentang pesan-pesan Lingkungan. Lukisan yang beraneka warna dan bentuk ini, menghilangkan kesan angker pemakaman yang ada di bantara kali jenes tersebut.
Nila-Mahasiswa dan Karyawan, menuturkan. Bantaran kali jenis menjadi indah, tembok angker makam telah terganti dengan warna-warni lukisan yang menarik mata untuk tak beranjak dari bantaran sungai jenes.
Bantaran kali jenes dilukis oleh 102 kelompok dengan panjang 306 meter.dalam kegiatan yang diadakan oleh PPLH Mangkubumi dan GP ANSOR pada 17 Juli 2012 lalu. sejak saat itu bantaran kali jenes menjadi tempat yang baru dengan spirit yang baru juga.
Nila menambahkan. Bantaran kali jenes sangat cocok untuk menghabiskan akhir pekan. sebab, selain keindahan yang ditampilkan, lukisan-lukisan tembok tersebut, memberikan kesan damai dan inspirasi baru.

Sabtu, 09 Juni 2012

0 Kata adalah senjata "sastra itu tak cengeng tapi untuk melawan

Pena seorang penulis lebih tajam dari pada pedang seorang pejuang. Jika seorang pejuang melawan sesuatu yang nyata dengan pedangnya, maka Penulislah yang akan menciptakan kenyataan itu sepanjang massa. Anda boleh saja gila, tapi jangan gila karena wanita. Karena wanita akan begitu mudah anda taklukkan dengan hanya beberapa kata saja. jadi gilalah bersama kata-kata anda, karena KATA ADALAH SENJATA.
Kutipan tulisan diatas adalah pengantar dari buku Berjudul, Sastra Perlawanan. karya Nurani Soyomukti. yang akan dibedah oleh PKFT- Pusat Kajian Filsafat dan theologi besok siang dalam rangka memperingati hari Pancasila.
Saiful-Direktur PKFT. bilang, buku ini mengulas sastra di Indonesia yang sesungguhnya digunakan untuk perlawanan terhadap kaum penjajahan. Fihaknya ingin memberikan pencerahan kepada Pelajar, Mahasiswa, dan masyarakat agar mengerti bahwa Sastra Indonesia sebenarnya bukanlah sastra Cengeng.
Sastra Indonesia sudah banyak dimanipulasi penjajah, sehingga membuat masyakat Indonesia kurang memahami Sastra Indonesia yang sesungguhnya. dan Khusus di Tulungagung, lebih banyak gerakan perlawanan wisik seperti demonstrasi daripada bertutur yang indah untuk mengkritik dan memberi solusi. Saiful berharap. Nantinya masyarakat mengetahui, atau open maindet terhadap permaslahan sosial yang ada, dan mampu menelurkan karya-karya sastra perlawanan. dan menghidupkan ruh kekritisan, karena sastra adalah kata-kata indah namun mematikan.

Jumat, 11 Mei 2012

0 Sang Legenda, Tak mampu melegendakan Penghidupanya

Legenda Kesenian Kentrung Tulungagung-Mbah GIMAH, kian merana, mengarungi samodra kehidupan dengan penuh keterbatasan.

Dia hidup di rumah bamboo berlantai tanah berukuran 3 kali 5 meter. Sepeninggal suami tercintanya, Mbah Gimah mendapat bantuan Gubernur sebesar Rp 10 juta, yang dia gunakan untuk mengembalikan hutang biaya pengobatan suaminya ketika sakit. Sisanya, dia gunakan untuk menyewa Sebuah tempat tinggal yang tidak layak huni itu, di dusun Patik desa Batang saren kecamatan Kauman, yang ditempatinya hingga saat ini.

Kesenaiian kentrung, yang memberikan pesan universal. pesan-pesan sosial dan pesan-pesan moral diselingi dengan nyanyian indah, dan tetabuahan gamelan khas Kentrung ini merupakan warisan budaya adiluhung Jawa. yang mulai terabaikan oleh para generasi penerus bvangsa. Banyak yang lupa terhadap tradisi sendiri lebih banyak mengunggulkan budaya asing. Hingga budaya adiluhung ini semakin terpuruk.

Dalam keterpurukannya, sang Legenda menoreh cita, agar Kesenian Kentrung asli Tulungagung ini, tidak punah dan ada yg mewarisi. Untuk itu Mbah Gimah mengetuk nurani pejabat Tulungagung untuk mendapat kesempatan menurunkan kemampuan kesenian kentrung ini kepada pelajar di Tulungagung, yang bisa disisipkan dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah.

Minggu, 22 April 2012

0 Kita tidak Mewarisi BUMI dari Nenek Moyang,namun Berhutang pada Anak Cucu

(Refleksi Hari Bumi 22 April 2012)
Kita tidak Mewarisi BUMI dari Nenek Moyang,namun Berhutang pada Anak Cucu

(Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup “Mangkubumi”)

“Bumi bukan hanya tempat kencing dan berak, atau bahkan hanya tempat pemuas nafsu serakah dan tamak. Namun Bumi adalah bapak darimana ibumu dilahirkan, dan teman yang akan merangkulmu dalam kesendirian.” Petikan Syair Gus Mus, tegas memberitahukan posisi bumi terhadap kita.
Semua bukan karena apa atau siapa namun karena kita. Maklhuk yang katanya paling sempurna dan tinggi derajatnya. Berjuta-juta tahun bumi telah berevolusi dan memberikan apapun yang ia miliki, hasilkan dan rawat kepada kita. Dan pernahkah kita memberikan sesuatu yang indah untuk bumi kita selain kerusakan dan kehancuran yang semakin lama semakin cepat.
Kerusakan sudah sedemikian parah, kehancuran sudah didepan mata. Tak perlu melihat daerah kita sendiri, Tulungagung. Tulungagung meronta kawan, lihatlah hutan yang menjadi paru-paru bumi semakin kritis, 65 % Hutan Rusak Parah, belum yang sedang dan ringan. Dan hanya hutan yang dilindungi tradisi dan dikeramatkan yang masih terjaga.
Kerusakan ini yang menyebabkan mata air kita juga mengering. Lebih dari 50% mata air Tulungagung menghilang dan hanya jadi cekungan tak berpenghuni di musim kemarau. Yang membuat ia tak mampu mengalir melalui sungai yang memberikan penghidupan pada daerah yang dilaluinya. Sungai-sungai juga tak seindah bayangan kita. Aneka ragam rupa dan warna mengapung diatasnya, bahkan tak lagi jernih. Berwarna legam dan suram, hingga tak kuasa kita meneguk air dari bengawan kita, bahkan harus membayar demi menjaga diri kita. Memang Apa Penyebabnya ???

Penebangan Hutan, tanpa Perencanaan? Pertambangan Ngawur? Penggunaan bahan-bahan Kimia? Pembuangan Limbah tanpa Pengolahan yang tepat? Sampah ? atau apa? Yang jelas itu semua ulah kita. Trus, Apa yang bisa kita perbuat???
PPLH Mangkubumi, bersama segenep element mengajak untuk mencintai bumi ini, bukan karena bumi, namun karena diri kita sendiri membutuhkan BUMI. Dan kami mengutuk kepada siapaun yang menggagahi bumi dengan dalih apapun tanpa mempertimbangkan aspek-aspek keadilan Lingkungan. Dan kami Menuntut !!!
1. Diri kami, dan masyarakat, untuk lebih sadar dan adil dalam pengelolaan dan Pemanfaatan Lingkungan Hidup.
2. Pengusaha, untuk lebih arif dan bijaksana dalam rangka mengeksploitasi apapun yang ada dibumi ini. dengan kaidah-kaidah yang telah diatur bukan hanya untuk keuntungan semata.
3. Pemangku Kebijakan, untuk mengatur, dan menerbitkan regulasi yang yang berlandaskan kepentingan BUMI, bukan pengusaha ataupun Pemerkosa Alam. Serta menyusun ANGGARAN yang PRO LINGKUNGAN.
4. Penegak Hukum, untuk menindak tegas penjahat-penjahat Lingkungan. Jangan main mata, apalagi menjadikan mereka ATM, dengan mengorbankan masa depan bumi kita.

Sabtu, 31 Maret 2012

0 Diam atau Bergerak di tuduh Politis !!! so, MAJU TERUS

Dilematis, tohok seorang mahasiswa yang lepas berdiskusi dalam sebuah warung kopi dipinggiran kampus tempat ia menimba ilmu. dalam kalutan yang kian ramai ia meradangkan sebuah tekanan dari beberapa orang yang mungkin antek-antek penguasa yang bercokol di kerajaan kecil bumi pardikan ini.
Pardikan atau kemerdekaan memang telah kita dapatkan berpuluh-piluh tahun lalu, namun hakekat kemerdekaan berupa kesejahteraan rakyat belum sepenuhnya kita miliki. masih banyak masyarakat yang belum mampu untuk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. di satu sisi pemerintah belum mampu memberikan kebutuhan primer rakyat ditengah bergelimangya Sumberdaya Alam yang di anugrahkan Tuhan di bumi Nusantara. Parahnya penguasa malah berebut upeti masyarakat untuk memenuhi kantong-kantong mereka untuk sebuah syahwat akan kekayaan yang tak pernah ada habisnya.
Parahnya, saat kaum intelektual/Mahasiswa ingin melakukan kontrol sosial hanya satu kata yang diteriakan teman-teman yang lain "POLITIS" atau "JATAH KURANG" mungkin seperti inilah tohok teman, yang selalu acuh dan mau menang sendiri dah hanya mementingkan diri sendiri. Namun dalam sebuah diskusi demonstran yang menginginkan perubahan yang lebih baik. dari hasil ononai pemikiran dan diskusi yang berdarah-darah. sebuah ungkapan yang muncul dari kelesuan ini "Maju Terus, kesan nda kesan. Kami hanya ingin Indonesia Sejahtera".

0 koin untuk eSBeYe

Sabtu, 10 Maret 2012

1 Guyub Rukun Mlekotho Wong Tulungagung


“Guyub Rukun”, sebuah semboyan yang telah mengakar dalam perjalanan Kabupaten Tulungagung beberapa tahun belakangan ini yang membuat kita nyaman dalam alam bawah sadar. Rupanya kenyaman bawah sadar ini tidak digunakan untuk mesejahteraan rakyat namun dimanfaatkan oleh beberapa gelintir oknum pejabat dan birokrat untuk mengeruk anggaran daerah.
Pengerukan anggaran daerah ini sesungguhnya telah dilaksanakan sejak semboyan ini dikenalkan kepada kita. Hari ini mulai terungkap satu persatu, melalui media massa kita dapat melihat skandal korupsi yang ditangani oleh KPK dan MABES POLRI, oleh oknum pejabat PEMKAB Tulungagung senilai 20 Milyar.
Nilai sebenarnya lebih besar lagi, “sekitar 15 Milyar bantuan sosial yang diselewengkan pada tahun 2007, 20 Milyar pada tahun 2009 bersumber dari APBN, dan 15 Milyar APBD 2009” tutur seorang pejabat publik yang bersumber dari hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK RI). “Sebenarnya masih banyak penyelewengan yang lain namun nominalnya belum bisa ia sebutkan dan semakin gila-gilaan” tandasnya dengan nada yang geram.
Geram, geram, geram. Raut muka yang kami temui saat bertemu dengan masyarakat pinggiran hutan Tulungagung yang setiap taunya mendapat kiriman bencana alam yang bukan mereka penyebabnya. Pagi buta kami bertemu seorang paruh baya yang berlumuran lumpur kendaraanya, kamipun tergelitik untuk bertanya “Alah mas, dalane jeglong-jeglong gek wayah udan ngene pak yo musti gluprut endot” tutur pak Samuri sembari menghisap sebatang kretek.
Batangan-batangan keringat masyarakat untuk mencari nafkah hidupnya setiap hari tercucur membasahi tanah kota marmer dan sebagian disisihkan untuk membayar pajak dan restribusi kepada pemerintah dengan harapan dapat menikmati hasil kebijakan yang berasal dari pemikiran manusia-manusia terdidik yang telah menasbihkan dirinya sebagai ABDI MASYARAKAT bukan sebagai penguasa yang rakus memakan hak-hak rakyat.
Atas nama rakyat, itu yang sering didengung-dengungkan saat musim kampanye dalam pesta demokrasi apapun, namun saat telah mantap sebagai penguasa janji tinggalah panji yang ditancapkan di tiang sehingga diam. “Kami diam bukan berarti kami tidak tahu” tutur seorang mahasiswa kami meminta bukti bukan hanya omongan semata. Hal ini senada dengan seorang penjual sayur yang mendambakan kemakmuran. “anggaran negara kan banyak masak tak terasa sampai kesini”.
Kemakmuran bukan untuk segelintir birokrat namun untuk rakyat. “Wakil-wakil kita apakah hanya jadi tukang stempel birokrat kok seolah diam-diam saja mengamini kata penguasa”. Tutur tukang becak diperempatan BTA sebab ia merasa wakil rakyat selalu membiarkan saja dan nyaris tanpa konflik dengan penguasa.
Penguasa, apakah engkau tak dapat tersentuh dengan hukum ataukah oknum penegak hukum yang main mata dengan kalian. Kalau iya, kami akan mengadili sendiri kalian, sebelum itu terjadi kami memohon dengan sangat kepada pak Polisi, pak Jaksa, Pak Hakim, Pak Hakim untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya bukan seperti belati yang tajam kebawah namun tumpul diatas. Tuntaskan skandal kasus korupsi di Tulungagung bukan hanya yang nampak, namun juga aktor dibalik itu semua.
Wakil rakyat, jangan engkau keenakan duduk di kursi panas hanya untuk jadi tukang stempel birokrat. Kalian wakil kami dan seharusnya berpihak pada kami bukan pada penguasa. Buat kebijakan yang sesuai dengan kebaikan masyarakat Tulungagung, karena kalian yang mewakili kami.

Ataukah ? memang benar semua telah berGuyub Rukun Mlekotho wong Tulungagung.

Rabu, 30 November 2011

0 Botol yang mampu menggondol Bandrol


Tumpukan bening gemerincing menumpuk di pinggiran rumah yang tak terlalu besar dipinggiran hutan yang masih ijo royo-royo di pinggiran hutan di selatan Tulungagung. dalam angan terbersit tanda tanya yang cukup besar, "mau diapakan sampah-sampah botol ini".

Waw, tersesat mataku melihat gerumulan pemuda yang merancang serakan kayu dengan pisau dan uluran-uluran benang. dan akupun semakin tercengang kala melihat botol-botol itu menjadi sebuah hal yang indah dan berharga ekonomis.

Di massa lalu, botol biasa digunakan sebagai penyampai pesan (message in the bottle). menurut beberapa literatur, catatan pertama penggunaan pesan dalam botol telah dilakukan pada tahun 310 SM oleh filsuf Yunani kuno Theophrastus, sebagai bagian dari eksperimen arus laut untuk memperlihatkan bahwa Laut Mediterania adalah satu aliran dengan Samudera Atlantik.

Sesosok muda yang memakai baju coklat, turun dari sepeda motor merah membawa daftar list barang yang akan dikirim ke luar daerah. Ternyata ini kwalitas ekspor. beberapa telah menembus pasar Indonesia dan beberapa sedang proses ke Luar negeri, sungguh sangat keren..

penasaran, lyad aja dan rasakan sensasi botol yang dapat meraup pundi-pundi rupiah ini,

Selasa, 22 November 2011

1 "Kopi Ijo", tradisi pengikat di Kota Marmer


Hitam, panas, penghilang kantuk, itulah bayangan pertama saat kita mendengar yang namanya kopi. Minuman yang sangat populer di seluruh dunia, baik dari pinggir jalan maupun hotel-hotel berbintang kita pasti bisa menemukan si hitam ini.

Kopi yang konon katanya berasal dari afrika timur, yang dibawa oleh pedagang arab keliling dunia dan kira-kira tahun 1700an kopi masuk ke Indonesia oleh Zwaardecroon negarawab belanda pada saat ekspedisi. Dan kini kopi sudah masuk ke pelosok-pelosok zamrud katulistiwa dan merupakan kegemaran mayoritas penghuni negara bahari ini.

Diantara kota Trenggalek, Blitar dan Kediri terdapat sebuah kota kecil yang juga penghasil marmer terbesar di Indonesia, Tulungagung yang dalam bahasa Sansekerta diartikan Pertolongan yang Besar. Terdapat sebuah tradisi khas tentang racikan kopi dan seni dalam memperlakukan kopi.

Seni yang menjadi tradisi ini adalah kopi ijo atau dalam bahasa keren, Green Coffee. Bukan karena warna kopi yang menjadi hijau namun racikan kopi yang dicampur dengan kacang hijau dan rempah-rempah khusus yang merupakan tradisi adiluhung di Tulungagung ini.

Cita rasanya sungguh mantab, kopi luwakpun kalah dengan cita rasa kopi ijo ini. Yang lebih fantastis adalah, sisa kopi (chete) dapat digunakan melukis diatas rokok, dan uniknya rasa rokokpun menjadi tambah mantaf dan nikmat. dan harganya sangat terjangkau yakni Rp. 1.000; s/d Rp. 3.000; per cangkir.

Yang lebih mengherankan lagi di Tulungagung terdapat sekitar 3.000 lebih warung kopi yang tidak pernah sepi dari pengunjung. bahkan di sebuah kedai (Mak Tien) kopi ijo perhari bisa terjual rata-rata 4.000 cangkir.

Tua, muda, pria, wanita, tak ada yang tak tau cita rasa kopi ini, saat kita menginjakkan kaki di kota marmer ini. "Tradisi ini akan slalu dijaga dan diturunkan kepada orang-orang Tulungagung" tutur seorang sesepuh di kota marmer ini.

Sabtu, 19 November 2011

0 From School to Green Indonesia

Fungsi pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan seharusnya juga mampu menjawab persoalan yang hadir di masyarakat. Setidaknya saat ini sangat jaauh dari harapan yang telah muncul.Persoalan perubahan iklim dan pemanasan global menjadi sebuah hal yang menjadi momok bagi masyarakat pada pola yang sangat umum dan tidak semua orang tau dan memamahami hal ini.
Disisi lain dampak sangat jelas dirasakan oleh masyarakat.
Masuk ke selatan Tulungagung yang merupakan daerah penghasil marmer terbaik ke 2 setelah Italia, muncul sebuah sekolah pembaharu yang menangkap kondisi masyarakat yang mulai merasakan efekk yang dimunculkan oleh keseimbangan bumi yang semakin tidak jelas.Sebuah sekolah yang berbasis pada kebutuhan masyarakat (kearifan lokal) atau sekolah kejuruan ini menangkap persoalan masyarakat yang hari ini sedang melanda.
SMKN 2 Boyolangu, dengan beberapa program1. Kantin Sehat2. Taman Bacaan Masyarakat3. Mie Vegetarian4. Pembuatan Produk Daur Ulang5. Pewarna Alami6. Zero Plastik (goo too) (1day)7. Komposting8. IPAL/Biopori9. Pembibitan Untuk menambah Keanekaragaman Hayati10. Jamur Tiram11. BIOGAS12. Sensus Serangga Air / biotilik13. Edukasi Enterpreuner (Social Enterpreuner)14. Konservasi Sumber Air Telaga Buret

Kamis, 17 November 2011

0 "Mencairnya Batu untuk masa depan Jatim"


Kota Batu Malang mendadak menghangat dan cenderung mendidih, puluhan penguasa-penguasa kecil Maha Sekolah di Jawa Timur mengonani pemikiran hingga menghasilkan pendarahan-pendarahan yang harusnya dapat dipertanggung jawabkan.

Dari sebuah sudut ruangan terlihat seorang dengan duduk tertegun dan berfikir layaknya seorang profesor dengan amat santai ia berkata "kita disini dikumpulkan untuk menghabiskan anggaran, atau benar-benar buat mintarkan kita ya" dari sudut yang lain tersahut dengan nada canda "biarin aja boz yang penting bisa ngopi ma rekreasi gratis he he he" Seorang raja kecil dari malang dengan kacamata tebal menghadap laptop dengan serius penuh berkeringat dan mata melotot, akupun heran.

Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan tersenyum "RAPBN belum tuntas-tuntas, masih ada tarik ulur kepentingan, menurut salah satu pengamat ini lagi gencar-gencarnya menghabiskan anggaran" tutur tegasnya yang dicuplik dari berita on line.

Akupun menenggak kopi manis dan menghisap sebatang rokok dengan dalam hanya bisa berfikir dan menahan kata-kata ini "Klihatanya memang benar ini buat ngabisin anggaran". Tapi ini adalah momentum yang jarang sekali didapati maka daalam lahirku kukuatkan diriku dan mencoba ku kuatkan sahabat-sahabat ku.

Munculah sebuah ide segar dari kawan Madura, "Yuk, kita visioning, merencanakan masa depan Jawa Timur 20 tahun kedepan". Diskusipun mengalir kencang, berjuta kata-kata, pemikiran, retorika teoritik dan banyak referensi yang muncul.

Akhirnya dapat disimpulkan Jawa Timur 20 tahun kedepan harus "Mandiri Secara Ekonomi, Berdaulat Secara Politik dan Bermartabat dalam Budaya" dalam bingkai "Kejujuran, Kesabaran dan Keiklhasan.

Senin, 31 Oktober 2011

2 Celoteh dan Tangisan Hutan Pesisir Selatan


Ribuan manusia berteriak-teriak ditengah terik dipelataran PEMKAB Tulungagung, beberapa waktu lalu. Tak hanya bapak-bapak dan pemuda melainkan ibu-ibu dan anak kecilpun bersama turun ke jalan, mereka mengkibarkan spanduk bertuliskan “bubarkan pertambangan bukit cemenung”, “selamatkan hutan untuk anak-cucu kita”.

“jane awake ra ngolehi nambang gunung nang duwur kae, tapi kok iso yo? Ko, lek gununge ambrol omahe dewe entek, ora oleh duwit malah ketiban watu awake” obrolan ibu-ibu di barisan belakang pengunjuk rasa.

Ibu-ibu mempertanyakan izin operasi tambang, padahal masyarakat tidak mengizinkan, bila bukit itu sampai runtuh habis rumah-rumah yang ada di bawah.

Bukit Cemenung di Kecamatan Rejotangan perbatasan Kab. Tulungagung dengan Kab. Blitar ini, menurut beberapa sumber disinyalir tidak hanya menyimpan bijih besi namun juga emas. Tulungagung memang kaya akan mineral alam, bahkan marmer nomer dua sedunia besasal dari kota pesisir laut selatan ini.

15 km dari kecamatan Rejotangan kearah barat selatan sentra pertambangan marmer berada, tepatnya di kec. Besuki dan Campurdarat. Bangunan-bangunan raksasa menghiasai pinggiran hutan, bising raungan mesin, lalu lalang truk pengangkut marmer menjadi pemandangan sehari-hari. Ibu-ibu bergerumun di gedung-gedung tempat pembuatan pernak-pernik dari marmer, bapak-bapak bergelut dengan batu-batu putih itu sepanjang waktu.

Marmer yang ditambang dari gunung-gunung dengan mengorbankan hutan-hutan ini, tidak hanya dipasaran Indonesia namun juga ekspor ke Asia, Eropa dan Amerika. Dalam show room yang ada dipinggir -pinggir jalan, dapat terlihat pernik mulai dari asbak, patung sampai bath up (tempat berendam yang biasa di hotel-hotel).

Di gubuk pinggiran hutan tinggal sebuah keluarga dengan tiga orang anak, “ya beginilah kami mas, tiap hari ke pabrik buat bekerja. Tapi dari dulu tetep gini – gini aja”. Tutur bapak berkulit pekat dan guratan – guratan tebal di keningnya ini.

Rumah keluarga ini sangatlah sederhana, anak yang pertama telah lulus STM dan kini membantu bapaknya di pertambangan marmer. Dua adik perempuanya masih duduk di bangku SMP dan SD. Sekolah tidak jauh dari rumah, saat musim hujan turun mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk sampai ke tempat menimba ilmu, walet atau lumpur yang turun dari gunung terbawa air hujan menggenangi jalan, yang juga akses menuju ke pantai dan pelabuhan ikan popoh indah, bahkan walet masuk kerumah bila hujan lebat datang.

Beberapa tahun yang lalu saat aku masih di bangku SMP sering sekali bersepeda menuju ke pantai, saat liburan datang bersama kawan – kawan. “dari dulu memang kayak gini keadaanya saat musim hujan datang”. Namun dulu hanya menggenang beberapa sentimeter saja, tapi sekarang bisa mencapai setengah meter. Pepohonan besar yang dulu berjajar mengiringi perjalan kamipun, sudah menjadi ladang dan beberapa menjadi pabrik – pabrik pengolah marmer.

Dari 40.000 hektar lebih hutan Tulungagung, 25.000 hektar lebih gundul, dan sisanya rusak dan hanya ada sebagian yang masih terjaga. Itupun peran serta masyarakat adat penghuni hutan.

Ditengah kerusakan hutan yang parah ini pemerintah justru alokasi APBD 2010 kab Tulungagung untuk hutan hanya 0,03% atau dibawah tiga ratus juta dari total anggaran satu triliyun lebih, bandingkan dengan pengadaan mobil ddinas yang menghabiskan anggaran sampai enam milyar. Ketika ditanyakan kepada DPRD tentang hal ini mereka malah menjawab “hutan itu tanggung jawab perum perhutani bukan menjadi kewenangan kami”. Padahal apabila terjadi bencana pada warganya pemerintah juga yang selalu repot.

Seperti yang terjadi di kecamatan Sendang beberapa waktu yang lalu, tanah lonsor yang telah merenggut beberapa nyawapun di cover oleh PEMKAB. Perhutanipun seolah-olah menutup matanya pada kejadian itu.

Ketidaksenergisan antara berbagai steak holder juga menambah penderitaan hutan di tulungagung. Tatkala kepentingan-kepentingan yang telah memfokuskan pada isi perut membuat kita semakin terperanga, menatap sedih ke hadapan alam. Saat aku berkomunikasi dengan beberapa oknum yang terkait dengan hutan, mulai dari PERUM PERHUTANI, PEMKAB dan lain-lain, mereka hanya saling lempar dalam penanggulangan dampak.

Dampak kerusakan telah dirasakan bersama hingga beberapa kelompok dalam masyarakat tergerak untuk menyelamatkan lingkungan yang semakin lama semakin menjadi ini. Di pagi itu saat aku mencoba menghilangkan penat dengan berjalan-jalan ke sebuah telaga yang masih perawan di Sawo Campurdarat, aku melihat sesosok tua, kerut kening telah dan lebam kulit menyelimuti tubuh yang tak muda lagi, sedang membersihkan semak-semak disekitar pohon trembesi yang tingginya masih satu setengah meteran.

“Pak Triman, pripun kabare? Aku sapa sambil tersenyum. Aku sudah cukup kenal dengan dedengkot aktifis lingkungan ini, yang juga merupakan ketua kasepuhan “Sendang Tirto Mulyo” sebuah kelompok pemerhati budaya dan lingkungan di pesisir Tulungagung Selatan. Apik mas, jawab beliau dengan senyum simpulnya. Dengan serba keterbatasan beliau terus berusaha melestarikan hutan semampu beliau hingga menutup usia, kira-kira seperti itu yang beliau inginkan.

Sayangnya keteguhan hati dan semangat para aktifis lingkungan seperti Pak Triman, kurang mendapat apresiasi yang konkret dari pemerintah. Justru apresiasi datang dari kaum muda khususnya yang tergabung dalam pecinta alam ataupun dari NGO (LSM) lingkungan yang turut member support baik moril maupun materil. Hal ini terlihat dari proses pelaksanaan konservasi yang sering dilakukan oleh masyarakat. Perencanaan sering tidak diikuti oleh pemerintah maupun perhutani namun apabila terjadi suatu hal sering terjadi suatu tindakan yang menghambat proses konservasi yang sedang berlangsung.
Dari seorang tua penghuni pinggiran hutan aku mendapatkan sebuah nasehat penting, tidak ada dusta dan kepura-puraan. “Tuhan telah menciptakan hutan untuk manusia dan seyogyanya kita bersahabat dengan mereka” dan “usaha berlebih untuk memaksimalkan hasil hutan malah akan beerbuah bencana dan sengketa”. Dan marilah kita bersama-sama berfikir dan bertindak “untuk keadilan lingkungan dan masa depan bumi kita”.

Santri Mbeling

 

Maliki Nusantara Copyright © 2012 - |- Template created by Santri Mbeling - |- Powered by Blogger Templates