Rabu, 30 November 2011

0 Botol yang mampu menggondol Bandrol


Tumpukan bening gemerincing menumpuk di pinggiran rumah yang tak terlalu besar dipinggiran hutan yang masih ijo royo-royo di pinggiran hutan di selatan Tulungagung. dalam angan terbersit tanda tanya yang cukup besar, "mau diapakan sampah-sampah botol ini".

Waw, tersesat mataku melihat gerumulan pemuda yang merancang serakan kayu dengan pisau dan uluran-uluran benang. dan akupun semakin tercengang kala melihat botol-botol itu menjadi sebuah hal yang indah dan berharga ekonomis.

Di massa lalu, botol biasa digunakan sebagai penyampai pesan (message in the bottle). menurut beberapa literatur, catatan pertama penggunaan pesan dalam botol telah dilakukan pada tahun 310 SM oleh filsuf Yunani kuno Theophrastus, sebagai bagian dari eksperimen arus laut untuk memperlihatkan bahwa Laut Mediterania adalah satu aliran dengan Samudera Atlantik.

Sesosok muda yang memakai baju coklat, turun dari sepeda motor merah membawa daftar list barang yang akan dikirim ke luar daerah. Ternyata ini kwalitas ekspor. beberapa telah menembus pasar Indonesia dan beberapa sedang proses ke Luar negeri, sungguh sangat keren..

penasaran, lyad aja dan rasakan sensasi botol yang dapat meraup pundi-pundi rupiah ini,

Selasa, 22 November 2011

1 "Kopi Ijo", tradisi pengikat di Kota Marmer


Hitam, panas, penghilang kantuk, itulah bayangan pertama saat kita mendengar yang namanya kopi. Minuman yang sangat populer di seluruh dunia, baik dari pinggir jalan maupun hotel-hotel berbintang kita pasti bisa menemukan si hitam ini.

Kopi yang konon katanya berasal dari afrika timur, yang dibawa oleh pedagang arab keliling dunia dan kira-kira tahun 1700an kopi masuk ke Indonesia oleh Zwaardecroon negarawab belanda pada saat ekspedisi. Dan kini kopi sudah masuk ke pelosok-pelosok zamrud katulistiwa dan merupakan kegemaran mayoritas penghuni negara bahari ini.

Diantara kota Trenggalek, Blitar dan Kediri terdapat sebuah kota kecil yang juga penghasil marmer terbesar di Indonesia, Tulungagung yang dalam bahasa Sansekerta diartikan Pertolongan yang Besar. Terdapat sebuah tradisi khas tentang racikan kopi dan seni dalam memperlakukan kopi.

Seni yang menjadi tradisi ini adalah kopi ijo atau dalam bahasa keren, Green Coffee. Bukan karena warna kopi yang menjadi hijau namun racikan kopi yang dicampur dengan kacang hijau dan rempah-rempah khusus yang merupakan tradisi adiluhung di Tulungagung ini.

Cita rasanya sungguh mantab, kopi luwakpun kalah dengan cita rasa kopi ijo ini. Yang lebih fantastis adalah, sisa kopi (chete) dapat digunakan melukis diatas rokok, dan uniknya rasa rokokpun menjadi tambah mantaf dan nikmat. dan harganya sangat terjangkau yakni Rp. 1.000; s/d Rp. 3.000; per cangkir.

Yang lebih mengherankan lagi di Tulungagung terdapat sekitar 3.000 lebih warung kopi yang tidak pernah sepi dari pengunjung. bahkan di sebuah kedai (Mak Tien) kopi ijo perhari bisa terjual rata-rata 4.000 cangkir.

Tua, muda, pria, wanita, tak ada yang tak tau cita rasa kopi ini, saat kita menginjakkan kaki di kota marmer ini. "Tradisi ini akan slalu dijaga dan diturunkan kepada orang-orang Tulungagung" tutur seorang sesepuh di kota marmer ini.

Sabtu, 19 November 2011

0 From School to Green Indonesia

Fungsi pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan seharusnya juga mampu menjawab persoalan yang hadir di masyarakat. Setidaknya saat ini sangat jaauh dari harapan yang telah muncul.Persoalan perubahan iklim dan pemanasan global menjadi sebuah hal yang menjadi momok bagi masyarakat pada pola yang sangat umum dan tidak semua orang tau dan memamahami hal ini.
Disisi lain dampak sangat jelas dirasakan oleh masyarakat.
Masuk ke selatan Tulungagung yang merupakan daerah penghasil marmer terbaik ke 2 setelah Italia, muncul sebuah sekolah pembaharu yang menangkap kondisi masyarakat yang mulai merasakan efekk yang dimunculkan oleh keseimbangan bumi yang semakin tidak jelas.Sebuah sekolah yang berbasis pada kebutuhan masyarakat (kearifan lokal) atau sekolah kejuruan ini menangkap persoalan masyarakat yang hari ini sedang melanda.
SMKN 2 Boyolangu, dengan beberapa program1. Kantin Sehat2. Taman Bacaan Masyarakat3. Mie Vegetarian4. Pembuatan Produk Daur Ulang5. Pewarna Alami6. Zero Plastik (goo too) (1day)7. Komposting8. IPAL/Biopori9. Pembibitan Untuk menambah Keanekaragaman Hayati10. Jamur Tiram11. BIOGAS12. Sensus Serangga Air / biotilik13. Edukasi Enterpreuner (Social Enterpreuner)14. Konservasi Sumber Air Telaga Buret

Kamis, 17 November 2011

0 "Mencairnya Batu untuk masa depan Jatim"


Kota Batu Malang mendadak menghangat dan cenderung mendidih, puluhan penguasa-penguasa kecil Maha Sekolah di Jawa Timur mengonani pemikiran hingga menghasilkan pendarahan-pendarahan yang harusnya dapat dipertanggung jawabkan.

Dari sebuah sudut ruangan terlihat seorang dengan duduk tertegun dan berfikir layaknya seorang profesor dengan amat santai ia berkata "kita disini dikumpulkan untuk menghabiskan anggaran, atau benar-benar buat mintarkan kita ya" dari sudut yang lain tersahut dengan nada canda "biarin aja boz yang penting bisa ngopi ma rekreasi gratis he he he" Seorang raja kecil dari malang dengan kacamata tebal menghadap laptop dengan serius penuh berkeringat dan mata melotot, akupun heran.

Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan tersenyum "RAPBN belum tuntas-tuntas, masih ada tarik ulur kepentingan, menurut salah satu pengamat ini lagi gencar-gencarnya menghabiskan anggaran" tutur tegasnya yang dicuplik dari berita on line.

Akupun menenggak kopi manis dan menghisap sebatang rokok dengan dalam hanya bisa berfikir dan menahan kata-kata ini "Klihatanya memang benar ini buat ngabisin anggaran". Tapi ini adalah momentum yang jarang sekali didapati maka daalam lahirku kukuatkan diriku dan mencoba ku kuatkan sahabat-sahabat ku.

Munculah sebuah ide segar dari kawan Madura, "Yuk, kita visioning, merencanakan masa depan Jawa Timur 20 tahun kedepan". Diskusipun mengalir kencang, berjuta kata-kata, pemikiran, retorika teoritik dan banyak referensi yang muncul.

Akhirnya dapat disimpulkan Jawa Timur 20 tahun kedepan harus "Mandiri Secara Ekonomi, Berdaulat Secara Politik dan Bermartabat dalam Budaya" dalam bingkai "Kejujuran, Kesabaran dan Keiklhasan.

Senin, 31 Oktober 2011

2 Celoteh dan Tangisan Hutan Pesisir Selatan


Ribuan manusia berteriak-teriak ditengah terik dipelataran PEMKAB Tulungagung, beberapa waktu lalu. Tak hanya bapak-bapak dan pemuda melainkan ibu-ibu dan anak kecilpun bersama turun ke jalan, mereka mengkibarkan spanduk bertuliskan “bubarkan pertambangan bukit cemenung”, “selamatkan hutan untuk anak-cucu kita”.

“jane awake ra ngolehi nambang gunung nang duwur kae, tapi kok iso yo? Ko, lek gununge ambrol omahe dewe entek, ora oleh duwit malah ketiban watu awake” obrolan ibu-ibu di barisan belakang pengunjuk rasa.

Ibu-ibu mempertanyakan izin operasi tambang, padahal masyarakat tidak mengizinkan, bila bukit itu sampai runtuh habis rumah-rumah yang ada di bawah.

Bukit Cemenung di Kecamatan Rejotangan perbatasan Kab. Tulungagung dengan Kab. Blitar ini, menurut beberapa sumber disinyalir tidak hanya menyimpan bijih besi namun juga emas. Tulungagung memang kaya akan mineral alam, bahkan marmer nomer dua sedunia besasal dari kota pesisir laut selatan ini.

15 km dari kecamatan Rejotangan kearah barat selatan sentra pertambangan marmer berada, tepatnya di kec. Besuki dan Campurdarat. Bangunan-bangunan raksasa menghiasai pinggiran hutan, bising raungan mesin, lalu lalang truk pengangkut marmer menjadi pemandangan sehari-hari. Ibu-ibu bergerumun di gedung-gedung tempat pembuatan pernak-pernik dari marmer, bapak-bapak bergelut dengan batu-batu putih itu sepanjang waktu.

Marmer yang ditambang dari gunung-gunung dengan mengorbankan hutan-hutan ini, tidak hanya dipasaran Indonesia namun juga ekspor ke Asia, Eropa dan Amerika. Dalam show room yang ada dipinggir -pinggir jalan, dapat terlihat pernik mulai dari asbak, patung sampai bath up (tempat berendam yang biasa di hotel-hotel).

Di gubuk pinggiran hutan tinggal sebuah keluarga dengan tiga orang anak, “ya beginilah kami mas, tiap hari ke pabrik buat bekerja. Tapi dari dulu tetep gini – gini aja”. Tutur bapak berkulit pekat dan guratan – guratan tebal di keningnya ini.

Rumah keluarga ini sangatlah sederhana, anak yang pertama telah lulus STM dan kini membantu bapaknya di pertambangan marmer. Dua adik perempuanya masih duduk di bangku SMP dan SD. Sekolah tidak jauh dari rumah, saat musim hujan turun mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk sampai ke tempat menimba ilmu, walet atau lumpur yang turun dari gunung terbawa air hujan menggenangi jalan, yang juga akses menuju ke pantai dan pelabuhan ikan popoh indah, bahkan walet masuk kerumah bila hujan lebat datang.

Beberapa tahun yang lalu saat aku masih di bangku SMP sering sekali bersepeda menuju ke pantai, saat liburan datang bersama kawan – kawan. “dari dulu memang kayak gini keadaanya saat musim hujan datang”. Namun dulu hanya menggenang beberapa sentimeter saja, tapi sekarang bisa mencapai setengah meter. Pepohonan besar yang dulu berjajar mengiringi perjalan kamipun, sudah menjadi ladang dan beberapa menjadi pabrik – pabrik pengolah marmer.

Dari 40.000 hektar lebih hutan Tulungagung, 25.000 hektar lebih gundul, dan sisanya rusak dan hanya ada sebagian yang masih terjaga. Itupun peran serta masyarakat adat penghuni hutan.

Ditengah kerusakan hutan yang parah ini pemerintah justru alokasi APBD 2010 kab Tulungagung untuk hutan hanya 0,03% atau dibawah tiga ratus juta dari total anggaran satu triliyun lebih, bandingkan dengan pengadaan mobil ddinas yang menghabiskan anggaran sampai enam milyar. Ketika ditanyakan kepada DPRD tentang hal ini mereka malah menjawab “hutan itu tanggung jawab perum perhutani bukan menjadi kewenangan kami”. Padahal apabila terjadi bencana pada warganya pemerintah juga yang selalu repot.

Seperti yang terjadi di kecamatan Sendang beberapa waktu yang lalu, tanah lonsor yang telah merenggut beberapa nyawapun di cover oleh PEMKAB. Perhutanipun seolah-olah menutup matanya pada kejadian itu.

Ketidaksenergisan antara berbagai steak holder juga menambah penderitaan hutan di tulungagung. Tatkala kepentingan-kepentingan yang telah memfokuskan pada isi perut membuat kita semakin terperanga, menatap sedih ke hadapan alam. Saat aku berkomunikasi dengan beberapa oknum yang terkait dengan hutan, mulai dari PERUM PERHUTANI, PEMKAB dan lain-lain, mereka hanya saling lempar dalam penanggulangan dampak.

Dampak kerusakan telah dirasakan bersama hingga beberapa kelompok dalam masyarakat tergerak untuk menyelamatkan lingkungan yang semakin lama semakin menjadi ini. Di pagi itu saat aku mencoba menghilangkan penat dengan berjalan-jalan ke sebuah telaga yang masih perawan di Sawo Campurdarat, aku melihat sesosok tua, kerut kening telah dan lebam kulit menyelimuti tubuh yang tak muda lagi, sedang membersihkan semak-semak disekitar pohon trembesi yang tingginya masih satu setengah meteran.

“Pak Triman, pripun kabare? Aku sapa sambil tersenyum. Aku sudah cukup kenal dengan dedengkot aktifis lingkungan ini, yang juga merupakan ketua kasepuhan “Sendang Tirto Mulyo” sebuah kelompok pemerhati budaya dan lingkungan di pesisir Tulungagung Selatan. Apik mas, jawab beliau dengan senyum simpulnya. Dengan serba keterbatasan beliau terus berusaha melestarikan hutan semampu beliau hingga menutup usia, kira-kira seperti itu yang beliau inginkan.

Sayangnya keteguhan hati dan semangat para aktifis lingkungan seperti Pak Triman, kurang mendapat apresiasi yang konkret dari pemerintah. Justru apresiasi datang dari kaum muda khususnya yang tergabung dalam pecinta alam ataupun dari NGO (LSM) lingkungan yang turut member support baik moril maupun materil. Hal ini terlihat dari proses pelaksanaan konservasi yang sering dilakukan oleh masyarakat. Perencanaan sering tidak diikuti oleh pemerintah maupun perhutani namun apabila terjadi suatu hal sering terjadi suatu tindakan yang menghambat proses konservasi yang sedang berlangsung.
Dari seorang tua penghuni pinggiran hutan aku mendapatkan sebuah nasehat penting, tidak ada dusta dan kepura-puraan. “Tuhan telah menciptakan hutan untuk manusia dan seyogyanya kita bersahabat dengan mereka” dan “usaha berlebih untuk memaksimalkan hasil hutan malah akan beerbuah bencana dan sengketa”. Dan marilah kita bersama-sama berfikir dan bertindak “untuk keadilan lingkungan dan masa depan bumi kita”.

Santri Mbeling

 

Maliki Nusantara Copyright © 2012 - |- Template created by Santri Mbeling - |- Powered by Blogger Templates