Kamis, 27 Desember 2012

0 Tsunami bisa "Mbujuk i" juga


Tiung - tiung - tiung, bunyi sirene dibibir pantai Sine, Kalidawir Tulungagung, menggerang berulang-ulang, seraya melecutkan ratusan pasang kaki, lari tunggang langgang mendaki bukit terjal dalam balutan pekat langit  kehilangan sang surya yang mulai bersembunyi dibalik selimut malam. Kicrut, seorang pemuda yang masih berstatus sebagai mahasiswa, berteriak dengan sangat kencang seperti saat ia ber orasi dihadapan ribuan massa aksi "Lari, Tsunami hampir sampai. kita harus selamatkan diri kita" langkahnya mirip kuda yang disabet sang kusir, sembari menenteng sebuah jam dinding yang ber menunjuk angka 7 dan 11, atu tepatnya pukul 18.55 sore, waktu setempat. 
Bersama warga setempat Kicrut akhirnya sampai di puncak bukit yang dirasa paling aman, disana mereka mendirikan tenda-tenda darurat, dari perlengkapan seadanya, mulai dari batang pohon, ranting, terpal yang dibawa mereka mendaki untuk mendekati juru selamat, hal yang sungguh ironis memang, saat sebuah sistem terpadu penanganan bencana tidak ditunjang denga peta evakuasi dan persiapan evakuasi yang memadai. Akhirnya warga pantai itu pun, menikmati buaian angin malam dalam keadaan seadanya, dalam kesunyian, kedinginan dan rasa was-was yang belum kunjung reda walaupun dalam bekapan dingin sang malam.
Riuh - rantah suasana pagi setelah itu, bukan hembusan angin pantai, ataupun nyanyian burung yang biasa mewarnai indahnya suasana pagi. Namun teriakan kekecewaan beberapa warga masyarakat, Kicrut pun segera terbangun dan langsung saja menguping apa yang tengah terjadi, sambil terheran-heran dan raut yang mulai mangkel ia mendengar beberapa kata-kata yang sungguh mengagetkat. "Yo opo iki, bak-bak no, alate konslet, ora sido Sunami. Alate mbujuk i. beh-beh" (bagaimana sih ini, ternyata alat pendeteksi tsunaminya konslet, tidak ada tsunami, alatnya bohong kepada kita). Kicrutpun melihat puluhan warga masyarakat yang teramat kecewa dengan kenyataan yang ada. Apalagi setelah diketahui bahwa salah seorang warga yang juga petugas kebencanaan ikutan lari tunggang-langgang tanpa memantau terlebih dahulu kebenaran dari tanda yang mucul.

Kenapa ada Tsunami ?
Sembari, ter engah-engah dan kaget dengan kondisi yang sebenarnya terjadi, Kicrut pun menggumam dengan se enak hatinya, "Andai warga tau tentang Tsunami, tak perlu ada kejadian konyol seperti ini". Diapun jadi teringat materi tentang Tsunami di kampus yang telah dapat pada saat semester awal lalu. Dari seorang profesor dia mendapatkan materi : Tsunami adalah gelombang air laut yang sangat dahsyat, hali ini disebabkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, dan dasar laut. Gelombang air laut pertama tidak sampai 60 menit, dengan interval 10 - 60 menit tiap gelombang.
Sesaat sebelum Tsunami, terlihat air laut yang surut dari pantai dan ikan-ikan yang tiba-tiba menggelepar di pantai, jangan diambil seger menyingkirlah dari pantai. Juga dirasakan angin kencang tiba-tiba muncul dari arah laut dan bahkan mencium bau asin air laut. Kebanyakan tsunami di Indonesia disebabkan oleh gempa tektonik, sehingga jika terjadi gempa yang sangat keras segera menjauhlah dari pantai.
Nah sambil menghisap sebatang rokok kretek, Kicrut pun menghela nafas panjang dan melanjutkan mengingat-ingat apa yang disampaikan bapak dosen. Gempa bumi, Tsunami itu seperti Cinta, tak pernah diketahui kapan dan posisi seperti apa akan datang, maka kesiapan - siagaan sangat dibutuhkan agar kita mampu untuk tetap tegar berdiri meskipun kondisi terburuk yang terjadi.

Tsunami, bisa di antisipasi kawan? 
Kita, memang tidak akan pernah mampu memprediksi secara pasti kapan bencana akan menerpa, seperti halnya, cinta akan datang ataupun pergi semua terasa aneh, bagaikan menghisap secangkir kopi panas yang terasa nikmat di Tenggorokan, kemudian lari ke dalam lubang kamar mandi beberapa waktu kemudian, namun dengan pemahaman tentang kebencanaan kita minimal akan terhindar dari kiamat kecil (kematian) yang selalu menghantui saat bencana menerjang.
Dalam semua agama yang ada di dunia ini, pembuka gerbang kehidupan adalah Ilmu. Sehingga dasar paling dasar atau dalam bahasa akademis dikenal sebagai landasan fundamentalis ini, harus dipahami secara menyeluruh (holistic). Dan sebelum terjadi bencana tentu sudah ada potensi yang menghinggapi pada habitat makhlulk hidup, termasuk manusia. Berbicara lebih spesifik terhada tsunami, masyarakat harus memahami secara menyeluruh tentang tsunami, dan tanda-tandanya. Dan juga menyiapkan peta evakuasi saat bencana datang melanda tempat tersebut.
"Berandai-andai itu memang tak baik, untuk masa lalu, tapi kalau itu untuk massa depan saya fikir sah-sah saja" Kicrut mengutip apa yang disampaikan dosen dikelas yang pada waktu itu beranjak senja". Kalaupun Tsunami benar terjadi saat masyarakat faham akan tanda-tandanya, kemudian dipandu dengan teknologi yang tepat guna, serta jalur evakuasi dan penanganan yang jelas. Pastilah tidak akan banyak korban yang tumbang seperti halnya tsunami aceh, ataupu tsunami letusan krakatau yang ditulis dengan tinta merah dalam buku sejarah peradaban manusia.
Kicrut pun semakin terbuai dalam lamunan dan angan-angan. Iapun membuat model-model penanganan dalam khayalan tingkat dewanya. 1, 2, 3 batang kretek telah habis terhisap dan ia semakin terbuai dengan angan-angan dan mimpi untuk membuat model penanganan yang terbaik di daerahnya. Iapun semakin terhanyut, dalam, dalam dan semakin dalam. Hingga dia dikagetkan dengan hadirnya suara menggelegar "Le, yuh mbalik, Tsunami mbujuk i thok" (Nak, ayo pulang, Tsunaminya cuman bohong saja). Kicrut pun tersentak dan langsung lompat berdiri, laksana seorang prajurit yang diteriaki Jendralnya. Sembari ter enga-enga, Kicrutpun mengikuti gerombolan warga kembali ke kampungnya, tanpa secuil kata yang keluar dari mulutnya. (ky)

Selasa, 18 Desember 2012

0 Sepeda Galau yang "MENGGALAU"

Gemerlip lampu-lampu malam pemanis kota Tulungagung, menambah nikmat sajian santap jalan-jalan siapapun yang ingin menhabiskan malam di jalan-jalan kota marmer ini. penataan kota yang cukup asri teduh dan semarak memberikan kesan yang manis dan romantis, sehingga sangat cocok untuk menghilangkan kepnatan fikiran, atau dalam bahasa gaulnya hari ini disebut dengan "GALAU", sedikit alay sich, tapi itulah perubahan kultur yang menjadi keseharian para pemuda yang menghinggapi seantero kota Laskar Badai Selatan ini.
Galau pula telah meng inspirasi beberapa kelompok manusia untuk menciptakan sebuah kesan dan brand, yang mampu membangkitkan gairah pemuda dan menambah pundi-pundi penghasilan sang kreator, sehingga roda perekonomian industri kreatif berputar semakin kencang meskipun hanya sebentar.
"Sebentar" hal ini yang selalu saja menjadi ketakutan terutama pada wira usahawan atau dalam bahasa kerenya interpreuner anyaran, kenapa setiap hal yang tercipta di kota ini selalu tak mampu bertahan lama, ini kata seorang pengamat ekonomi di Tulungagung, yang enggan disebutkan namanya. Lihat saja beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan ternak jangkrik, ikan louhan, senthe hitam, bunga-bunga yang lain. tapi selalu saja tak bertahan lebih dari 1 semester.
Hal ini juga yang kiranya terjadi saat ini pada pengusaha sepeda galau, seperti yang dituturkan oleh pengusaha Sepeda Galau di Jalan Antasari Tulungagung, Pendapatan yang diperoleh tiap harinya menurun lebih dari 70% pada bulan ini dibandingkan dengan 3-4 baulan yang lalu, padahal dia terlanjur menambah armada baru untuk kemajuan usahanya tersebut. Iapun menambahkan, nasi udah  menjadi bubur dan semauanya harus dijalani dengan lapang dada, semabari menghela nafas panjang.
Penurunan omset ini bukan tanpa sebab, selain hegimoni atau gaung sepeda galau tidak seperti awal-awal muncul, juga semakin banyin banyak saja pengusaha yang mebuka lapak sepeda galau di Tulungagung ini, alhasil penurunan peminat ditambah lagi dengan semakin banyaknya produsen, yang terjadi adalah penurunan omset dari penyedia layanan sepeda galau ini.

Kenapa Demikian ?

Lagi-lagi ini masalah klasik yang menggelayuti dunia perekonomian tanah air, setiap ada yang mulai maju atau kelihatan menarik, dan menguntungkungkan follower atau pengikut tambah banyak, sehingga menjadikan nilai (value) tak se baik yang diharapkan. perilaku ini senantiasa mengalir dalam setiap pergulatan, sebagai contoh, potangan rambut, saat gondrong ngetrend, banyak yang gondrong, saat spyke, semuane nye pyke, dan yang lainya.
Plagiat yang satu ini emang sangat susah dihilangkan, sebab sepertinya sudah mengkultur sejak jaman bahula, sebut saja era majapahit, ataupun mataram, setiap suku atau unsur yang digunakan selalu mirip antara satu sama lain, sehingga naluri untuk mencipta hal baru dirasa kurang menarik dan mudah iri jikalau ada kawan yang memberikan hal yang lebih fenomenal.
Fenomena itupun juga masih berlangsung sampai era modern ini, kita telah lama mengenal "Jepang"nya Tulungagung yakni, daerah kecamatan Ngunut, dimana di daerah, apapun bisa di duplikasi, mulai dari perabit rumah tangga, samapai otomotif, bahkan informasi yang berkembang disana,beberapa spare part motor jepang yang cukup terkenal dan menjadi idola msyarakat Indonesia dibuat disana. Ironisnya, dikirim ke pabrikanya, di beri label dan dikirim kembali ke Tulungagung dengan harga yang fantastis. Selalu mereka yang mempunyai sistem dan modal besar yang berkuasa.

Harus Bagaimana Kita ?

Kekuasaan inilah yang kiranya menjadi kata kunci dan benang merah yang harus dirajut untuk memakmurkan masyarakat. Masih menurut seorang pakar ekonomi, Masyarakat dan pemerintah harus berbenah, untuk memasuki kehidupan madani dan lebih bermartabat. Urusan perut ini harus segera terselesaikan, sehingga masyarakat tak lagi hedonis/ hanya mencari keuntungan dalam sitem yang sempit.
Seperti yang dilakukan oleh para elit berebut kekuasaan demi seonggok berlian dan segumpal uang, meskipun akhirnya hanyalah jamban juga tetap harus mendapat perhatian yang lebih. Sebab rumpun permaslahan semua hanya pada perut.
Penataan regulasi, penataan ekonomi, kontrol dan sesatuan visi haruslah menjadi acuan utama dalam peningkatan ekonomi kemasyarakatan. Sebab jika masih saling sikut-sikutan dan mengikuti trend yang sedang berkembang tanpa ada inovasi dan kreasi, selamanya Indonesia akan menjadi negara konsumtif yang akan terus menjadi korban kapitalisme modern. Semoga cita-cita teguh the Founding Father tentang ekonomi kerakyatan dan kesejahteraan umum segera tercapai..

Sabtu, 08 Desember 2012

0 Meng “Kopi” kenikmatan Pekatnya Kursi


Kepulan asap tembakau nan harum terngiang dalam sebuah bilik bambu ukuran 6x8 m, berbaur dengan hawa segar dari racikan maestro minuman pekat yang telah menjadi sahabat warga Tulungagung. Tradisi “Ngopi” mampu menyatukan, dan mempertemukan berbagai kalangan dalam bingkai seruputan mantap dan clegukan tetesan hitam dari buah yang sesungguhnya berwarna merah. Mungkin, merah ini yang mengilhami keberanian para penikmatnya untuk mengonani pemikiranya, walaupun hanya dalam bilik bambu kecil yang tak berharga.
Berharga atau dihargai, sebuah ungkapan yang sebenarnya menjadi kebutuhan tiap insane yang hidup di dunia ini. Dan ada banyak jalan untuk mendapatkan itu mulai dari “menggojlok” teman saat bareng-bareng nongkrong di bilik bamboo atau warkop, memenangi sebuah kejuaraan, melawan sebuah ketidak adilan, sampai menduduki kursi panas penguasa tanah “Ngrowo” atau Tulungagung, yang lebih panas dari seduhan kopi hitam yang mampu sayat lidah manusia.
Ngrowo tengah dalam transisi, kondisi dimana semua lapisan masyarakat tertuju pada sebuah panggung pertempuran politik untuk menentukan nasib Tulungagung 5 Tahun kedepan. Tanggal 4 Desember 2012 telah dilakukan pengundian nomor urut pasangan calon Raja Kecil kabupaten Tulungagung oleh Komisioner yang bertugas menyelenggarakan Pemilu, kendati masih meninggalkan sedikit persoalan yang harus diselesaikan, bahkan sampai masuk ke ranah pengadilan tata  usaha Negara.
Meskipun demikian tata pemerintahan tetap harus diteruskan, tidak boleh larut dalam kemelut, harus lanjut, transisi adalah waktu yang paling labil dalam urusan sebuah organisasi baik pemerintahan maupun non pemerintahan. Maklumlah euphoria domokrasi masih menggelayuti masyarakat Tulungagung pasca teradinya revormasi 1998 yang tak sedikit menelan korban.
Korban-korban keganasan politik praktispun sudah mulai terlihat. Mulai dari penghabisan nama baik, hingga pengganjalan salah satu calon untuk memenangi di sebuah daerah. Ah, sebenarnya akupun cukup muak dengan semua pertempuran ini, tapi mau gimana lagi, panggung demokrasi ini harus kita hadapai. Sebab, kalau kita tak mau bermain, kita akan dimainkan orang lain. Sebuah ungkapan yameng sangat tepat untuk menggambarkan kondisi simalakama ini. 
Simalakama yang terus menggelayuti mendung kota Tulungagung, sampai awal tahun 2013 depan. Namun dalam semua hal yang terjadi tentunya harapan yang sederhana dari semua kalangan, namun sangat sulit diwujutkan adalah bagaimana seorang pemimpin Tulungagung mampu menerjemahkan landasan fundamental bangsa ini, yakni Pancasila. Bukan hanya untuk kepentingan golongan tertentu, atau bahkan hanya untuk mengeruk uang Negara untuk memperkaya diri sendiri. Seperti yang sudah-sudah.

Jumat, 23 November 2012

0 Tak senikmat hisapan Tembakau ituu


Gemercik air hujan pagi ini memberikan kesejukan yang terasa mendera dalam sebuah pergeliatan maya dan asa. Asa ini terus mengalir dalam rebahan yang terus menggelayuti temaram lampu-lampu neon yang menemani setiap pejalanan asa seorang petani yang menelusuri jengkal-jengkal tanah pematang dengan penuh pengharapan untuk mendapatkan hasil dari perut bumi yang sangat ia idam-idamkan.

Dalam penggelayutan menatap daun-daun tembakau yang siap untuk dipanen, setelah 3 bulan dibelai dalam buaian manja pak tani yang sudah renta namun masih punya asa dalam membaharui kehidupan anak cucunya. Sebut saja pak Umar, seorang yang usianya lebih dari 70 tahun dan ikut berjuang dalam perang kemerdekaan yang kini dikaruniai 4 orang anak dan seorang cucu. Anak pertama laki-laki dan susudah lulus SMP menikah, sedang ketiga adecknya cew dan masih duduk dibangku SD dan SMP, dan semuanya menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian warisan dari kakek buyutnya yang hanya sebesar 70ru atau ¼ Ha.

Para petani pada umumnya sangat bersemangat ketika musim panen tiba, namun tak begitu dengan pak umar dan petani tembakau lainya. Harga tembakau untuk tahun ini terjun bebas diangka Rp. 15,000 untuk tembakau kering dan seribu rupiah untuk tembakau basah di pohon. Dari tanah pak umar menghasilkan tembakau basah maksimal 1,5 ton. Dan jika di kurs kan denga harga seribu rupiah hanya menghasilkan Rp 1.500.000; itupun setelah proses hampir 4 bulan. Sungguh dilemma yang teramat dalam.

Pak umar pun mengigau tentang keadaan harga tembakau 2 tahun yang lalu dimana untuk kering tembus sampai Rp. 100.000; dan harga normal dipasaran untuk perhitungan BEP adalah Rp. 35.000; untuk tembakau kering. Tapi apalah daya meskipun harga rokok terus merangkak naik tapi tembakau malahan turun. Sunguh kacau balau kondisi masyarakat kecil dan kaum buruh yang ada di negeri ini.

Dipinggiran sungai kecil yang membelah hamparan sawah yang teramat luas umar menggelayut dalam tekanan dan beribu tanda tanya. Kenapa para pembesar senang dengan penderitaan kami, tak adakah secercah perasaan yang memberikan sebuah keadilan social seperti yang didengungkan sang proklamator dalam perang kemerdekaan yang lalu.
Dan kenapa “kata gemah ripah loh jinawi” dan “asah –asih, sambang-sambung” tak pernah melambung dalam membntuk sebuah zona perekonomian untuk mensejahterakan rakyat sesui apa yang menjadi penyatu kekuatan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Kamis, 12 Juli 2012

0 Kakang Mbakyu, Aset Daerah dalam genggam Pemuda

Rabu malam tanggal 4 Juli 2012, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Tulungagung, menggelar malam Grand Final Kakang Mbakyu Tulungagung, bertempat di Pendopo Kongas arum kusumaning Bongso. Kegiatan yang dihadiri hamper semua kalangan mulai dari pelajar, masyarakat umum dan pejabat ini. menobatkan Yoga Alfian F. sebagai Kakang Tulungagung dan Mahendri Putri Sholikhah sebagai Mbakyu Tulungagung. selain menobatkan kedua finalis sebagai Duta wisata . malam grand final tersebut juga memberikan anugrah Duta Lalulintas yang diraih oleh Yasmin Nur Hazizah.

Kepada admin, Yoga-Kakang Tulungagung. menuturkan pihaknya ingin memajukan serta mempromosikan pariwisata Tulungagung dan membuat orang Tulungagung bangga terhadap Pariwisatanya. serta memberikan himbauan kepada seluruh pemuda agar bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia, dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Sedangkan Mbakyu Tulungagung, Mahendri Putri. menyampaikan hal yang yang lebih teknis terkait dengan strategi promosi wisata tulungagung. yakni dengan mendatangai tempat pariwisata kemudian mengUpload, just one Clik . dan dia akan lebih memfokuskan kepada pariwisata dalam sector budaya. mengingat Tulungagung menyimpan banyak sekali sejarah yang berkaitan dengan Indonesia.

Sementara itu. Bupati Tulungagung-Heru Cahyono. berpesan kepada para pemenang. untuk lebih meningkatkan pemahamanya terhadap kemampuan berbahasa dan teknik menyampaikan promosi wisata. serta berharap Para pemenang mampu menjadi Inspirasi bagi para pemuda yang ada di Tulungagung.

Program ini sangat menarik untuk memberikan pembelajaran, dan sebagai media kepada pemuda untuk memupuk keterampilan dan keberanian sekaligus menciptakan tokoh muda yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi Tulungagung.
Namun, masih banyak pertanyaan yang menyertai Pariwisata Tulungagung, agar semakin berkembang. Gmana yaa enaknya...

Sabtu, 30 Juni 2012

0 Sumpek dalam kota Tulungagung, tidak perlu bingung !!!

"Wah malas jalan jauh, tapi pingin refreshing". Itu hal yang sering terungkap dari bibir manusia yang berada di tengah-tengah sebuah kota.
Namun hal ini tidak akan pernah anda rasakan jika anda berada dalam kota Tulungagung, Jawatimur. Sebab taman kota Tulungagung telah di didisain sedemikian rupa hingga membuat siapapun krasan dan nyaman berada di sana.

Aloon-Aloon Tulungagung atau yang lazim disebut dengan "TAMAN KUSUMA WICITRA", menyuguhkan berbagai menu yang menarik dan indah untuk melepaskan penat siapapun yang berada didalamnya. Ruang terbuka hijau yang diapit oleh kontraan wakil rakyat, gubug pemegang tongkat dinasti NGROWO, dan rumah Alloh termegah di Tulungagung ini menyuguhkan hamparan pemandangan hijau yang alami bukan sintetis, yang sering dipakai artis-artis bagaian tubuh hingga terlhat dramatis dan menarik.
Memang tak semenarik maklhuk indah ciptaan tuhan yang selalu berada dalam hati kita. namun ada simbol keabadian ssebuah hubungan, yakni ribuan burung merpati berkeliaran kesana-kemari seolah mengajak kita untuk kembali mencintai ciptaaNya yang lain serta bernostalgia dengan masa-msa kecil yang indah.
Buat yang memang benar-benar masih anak-anak, atau yang sudah beranak pinak. Jangan khawatir. Menu taman kusuma wicitara berlanjut ke taman out bond for children. dan hamparan tanah liat yang mantab untuk "kipu" dalam bahasa jawa. atau bermain tanah.
Selain bermain, taman kusumawicitra juga sangat nyaman untuk kegiatan edukasi, bisa berkelompok ataupun sendirian (itupun kalau berani, heheheh) karena selain selain tempat yang nyaman dan segar. disebrang taman kusumawicitara juga berdiri dengan megahnya, PERPUSTAKAAN daerah selain area yang juga didukung free Wi Fii.
Sebenarnya, masih banyak hal tentang Taman Kusuwicitra atau Aloon-Aloon Tulungagung yang belum saya tulis, tapi sudahlah sampai disini saja dulu.

Kalau anda tertarik, datang saja.
Saya yakin anda puas, meskipun sesungguhnya bukan alat pemuas. qiqi
Salam Hijau...


Jumat, 29 Juni 2012

1 Mbunusnya BULUS Brantas di Tulungagung

Tulungagung dilalui oleh salah satu sungai legendaris Dunia, Kali Brantas namanya. Massa lalu telah menggambarkan pertempuran yang hebat dan adu strategi pertempuran pada era kerajaan di Nusantara.
Taukah anda, Kali Brantas mempunyai spesies endemik, atau spesiaes asli. yakni Bulus Brantas. Dimana hari ini telah menghilang dari Kali Brantas Tulungagung. Dahulu bulus brantas menjadi sahabat masyarakat sekitar bantaran sungai brantas, dan menjadi sahabat yang asyik untuk bermain di kali. Namun hari ini tergantikan raungan diesel dari pompa-pompa yang menyedot pasir brantas.
Komunitas Peduli Kali Tulungagung. mengungkapkan, Bulus Brantas hilang di Tulungagung karena mereka tak lagi nayaman dengan habitat yang ada. Hal ini merupakan imbas dari Penambangan Pasir , Pembangunan sungai secara mekanik dan Pencemaran sungai baik dari Rumah tangga, maupun Industri. Tulungagung belum mempunyai IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) secara komunal. dan yang lebih memprihatinkan adalah perusahaan yang ada di Tulungagung membuang limbahnya tanpa proses IPAL yang benar.
Bahkan, Komunitas Peduli Kali Tulungagung menyampaikan Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas di Tulungagung yang meliputi Kali Ngrowo, Song dan Ngasinan. juga kehilangan spesies ikan Endemic. seperti , Mujaer, Bekel, Silli, Bethok, Kuthuk atau Gabus, Tawes, Bethik dan Bethem. nyaris punah. yang membanjiri tiga serangkai sub DAS hari ini merupakan sungai yang ditebar oleh pemerintah dan masyarakat yang peduli kali. meliputi kething, mujaer dan nila.

Komunitas Peduli Kali Tulungagung memberikan sebuah analisis bahwa, Harus ada penganan dan tindakan yang jelas dari Multi Fihak, untuk menghadapi persolan kali brantas.
Dan pemerintah pusat harus turun tangan secara langsung, tidak hanya pemerintah daerah. Sebab Sungai Brantas adalah sungai strategis Nasional, yang pengelolaanya sesungguhnya pada pemerintah Pusat.

Selasa, 26 Juni 2012

0 Tulungagung jadi sasaran empuk pengedar NARKOBA luar daerah

Hari ini tanggal 26 Juni 2012 merupakan hari NARKOBA INTERNASIONAL. di Tulungagung sendiri narkoba merupakan musuh yang sangat berbahaya, khusunya di kalangan Pelajar dan pemuda. ini kata Kepala BNNK-Badan Narkotika Nasional Kab. Tulungagung- AKBP Ria Damayanti.
Paparnya, dalam melakukan pencegahan BNNK melakukan scaning, sosialisi dan desiminasi. dari tingkat SMP sampai dengan perguruan Tinggi.

Selain sosialisasi BNNK juga melakukan Pembentukan SATGAS yang terdiri dari berbagai fihak untuk bersama melakukan penangan dan penanggulangan penyebaran NARKOBA di Tulungagung. TRI ARIF-KASI PEMBERDAYAAN Masyarakat BNNK Tulungagung, menyampaikan. jaringan luar kota banyak yang masuk ke Tulungagung, melihat Banyaknya warkop, karaoke dan tempat hiburan. BNNK juga menuturkan dari hasil test urin dari bulan januari sampai Juni dengan sample 400. ditemukan 102 positif.
Dalam menyingkapi hal ini BNNK terus gencar melakaukan pemantauan dan penyelidikan, agar korban Narkoba tidak bertambah. Namun untuk yang ingin sembuh, BNNK dapat memfasilitasi rehabilitasi korban Narkoba. denganmengirimkan ke Panti rehabilitasi Lindaw-Jakarta.

Senin, 25 Juni 2012

0 Sampai-sampai pasar jadi sarang korupsi

Pasar merupakan tempat interaksi masyarakat, baik dalam melakukan interaksi sosial maupun interaksi Ekonomi. Area ini menjadi tempat tempat yang penting untuk masyarakat khususnya ekonomi kecil.
Tempat yang merakyat ini masih saja ditemukan pelanggaran tindak korupsi, khususnya terkait retribusi yang dilakukan oleh petugas pasar. seperti yang terjadi di pasar ngunut, dimana petugas pemungut restribusi dari UPTD memungut tanpa menyertakan karcis retribusi, atau kadang hanya diberi kwitansi tanpa stempel resmi. ini kata samsuri-Pegiat Anti korupsi di Kawasan Ngunut dan Rejotangan.
Pada tanggal 11 Juni 2012 yang lalu, pihaknya telah menhadap ke Kepala DISPENDA Tulungagung, Eko Asistono. dalam pertemuanya, Eko Asistono memberikan apresiasi positif, dan akan memberikan perintah untuk transparansi Restribusi di UPTD Pasar Ngunut.
Namun sangat berbeda adanya dengan yang terjadi di UPTD Pasar Ngunut. papar Samsuri. Kepala UPTD ngunut malah menunjukkan arogansi kepada masyarakat, dimana kepala UPTD menyampaikan dengan nada yang keras kepaada masyarakat. kalau tidak mau mengikuti mereka ya sudah. Menanggapi perlakuan yang tidak menyenangkan ini dan Pungli yang terus berlangsung. Samsuri bersama dengan masyarakat, akan segera melaporkan Oknum tersebut ke Kepolisian, Inspektorat, dan Instansi-instansi lain yang terkait.

Minggu, 24 Juni 2012

0 Wisata Inspiratif, kali Jenes

Bermunculan lokasi-lokasi baru, wisata kota di Tulungagung. salah satunya adalah bantaran kali Jenes, belakang PEMKAB Tulungagung.
Bantaran kali jenes menyajikan lukisan yang ada di tembok atau yang disebut dengan lukisan “MURAL” dengan tematik tentang pesan-pesan Lingkungan. Lukisan yang beraneka warna dan bentuk ini, menghilangkan kesan angker pemakaman yang ada di bantara kali jenes tersebut.
Nila-Mahasiswa dan Karyawan, menuturkan. Bantaran kali jenis menjadi indah, tembok angker makam telah terganti dengan warna-warni lukisan yang menarik mata untuk tak beranjak dari bantaran sungai jenes.
Bantaran kali jenes dilukis oleh 102 kelompok dengan panjang 306 meter.dalam kegiatan yang diadakan oleh PPLH Mangkubumi dan GP ANSOR pada 17 Juli 2012 lalu. sejak saat itu bantaran kali jenes menjadi tempat yang baru dengan spirit yang baru juga.
Nila menambahkan. Bantaran kali jenes sangat cocok untuk menghabiskan akhir pekan. sebab, selain keindahan yang ditampilkan, lukisan-lukisan tembok tersebut, memberikan kesan damai dan inspirasi baru.

Sabtu, 09 Juni 2012

0 Kata adalah senjata "sastra itu tak cengeng tapi untuk melawan

Pena seorang penulis lebih tajam dari pada pedang seorang pejuang. Jika seorang pejuang melawan sesuatu yang nyata dengan pedangnya, maka Penulislah yang akan menciptakan kenyataan itu sepanjang massa. Anda boleh saja gila, tapi jangan gila karena wanita. Karena wanita akan begitu mudah anda taklukkan dengan hanya beberapa kata saja. jadi gilalah bersama kata-kata anda, karena KATA ADALAH SENJATA.
Kutipan tulisan diatas adalah pengantar dari buku Berjudul, Sastra Perlawanan. karya Nurani Soyomukti. yang akan dibedah oleh PKFT- Pusat Kajian Filsafat dan theologi besok siang dalam rangka memperingati hari Pancasila.
Saiful-Direktur PKFT. bilang, buku ini mengulas sastra di Indonesia yang sesungguhnya digunakan untuk perlawanan terhadap kaum penjajahan. Fihaknya ingin memberikan pencerahan kepada Pelajar, Mahasiswa, dan masyarakat agar mengerti bahwa Sastra Indonesia sebenarnya bukanlah sastra Cengeng.
Sastra Indonesia sudah banyak dimanipulasi penjajah, sehingga membuat masyakat Indonesia kurang memahami Sastra Indonesia yang sesungguhnya. dan Khusus di Tulungagung, lebih banyak gerakan perlawanan wisik seperti demonstrasi daripada bertutur yang indah untuk mengkritik dan memberi solusi. Saiful berharap. Nantinya masyarakat mengetahui, atau open maindet terhadap permaslahan sosial yang ada, dan mampu menelurkan karya-karya sastra perlawanan. dan menghidupkan ruh kekritisan, karena sastra adalah kata-kata indah namun mematikan.

Jumat, 11 Mei 2012

0 Sang Legenda, Tak mampu melegendakan Penghidupanya

Legenda Kesenian Kentrung Tulungagung-Mbah GIMAH, kian merana, mengarungi samodra kehidupan dengan penuh keterbatasan.

Dia hidup di rumah bamboo berlantai tanah berukuran 3 kali 5 meter. Sepeninggal suami tercintanya, Mbah Gimah mendapat bantuan Gubernur sebesar Rp 10 juta, yang dia gunakan untuk mengembalikan hutang biaya pengobatan suaminya ketika sakit. Sisanya, dia gunakan untuk menyewa Sebuah tempat tinggal yang tidak layak huni itu, di dusun Patik desa Batang saren kecamatan Kauman, yang ditempatinya hingga saat ini.

Kesenaiian kentrung, yang memberikan pesan universal. pesan-pesan sosial dan pesan-pesan moral diselingi dengan nyanyian indah, dan tetabuahan gamelan khas Kentrung ini merupakan warisan budaya adiluhung Jawa. yang mulai terabaikan oleh para generasi penerus bvangsa. Banyak yang lupa terhadap tradisi sendiri lebih banyak mengunggulkan budaya asing. Hingga budaya adiluhung ini semakin terpuruk.

Dalam keterpurukannya, sang Legenda menoreh cita, agar Kesenian Kentrung asli Tulungagung ini, tidak punah dan ada yg mewarisi. Untuk itu Mbah Gimah mengetuk nurani pejabat Tulungagung untuk mendapat kesempatan menurunkan kemampuan kesenian kentrung ini kepada pelajar di Tulungagung, yang bisa disisipkan dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah.

Minggu, 22 April 2012

0 Kita tidak Mewarisi BUMI dari Nenek Moyang,namun Berhutang pada Anak Cucu

(Refleksi Hari Bumi 22 April 2012)
Kita tidak Mewarisi BUMI dari Nenek Moyang,namun Berhutang pada Anak Cucu

(Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup “Mangkubumi”)

“Bumi bukan hanya tempat kencing dan berak, atau bahkan hanya tempat pemuas nafsu serakah dan tamak. Namun Bumi adalah bapak darimana ibumu dilahirkan, dan teman yang akan merangkulmu dalam kesendirian.” Petikan Syair Gus Mus, tegas memberitahukan posisi bumi terhadap kita.
Semua bukan karena apa atau siapa namun karena kita. Maklhuk yang katanya paling sempurna dan tinggi derajatnya. Berjuta-juta tahun bumi telah berevolusi dan memberikan apapun yang ia miliki, hasilkan dan rawat kepada kita. Dan pernahkah kita memberikan sesuatu yang indah untuk bumi kita selain kerusakan dan kehancuran yang semakin lama semakin cepat.
Kerusakan sudah sedemikian parah, kehancuran sudah didepan mata. Tak perlu melihat daerah kita sendiri, Tulungagung. Tulungagung meronta kawan, lihatlah hutan yang menjadi paru-paru bumi semakin kritis, 65 % Hutan Rusak Parah, belum yang sedang dan ringan. Dan hanya hutan yang dilindungi tradisi dan dikeramatkan yang masih terjaga.
Kerusakan ini yang menyebabkan mata air kita juga mengering. Lebih dari 50% mata air Tulungagung menghilang dan hanya jadi cekungan tak berpenghuni di musim kemarau. Yang membuat ia tak mampu mengalir melalui sungai yang memberikan penghidupan pada daerah yang dilaluinya. Sungai-sungai juga tak seindah bayangan kita. Aneka ragam rupa dan warna mengapung diatasnya, bahkan tak lagi jernih. Berwarna legam dan suram, hingga tak kuasa kita meneguk air dari bengawan kita, bahkan harus membayar demi menjaga diri kita. Memang Apa Penyebabnya ???

Penebangan Hutan, tanpa Perencanaan? Pertambangan Ngawur? Penggunaan bahan-bahan Kimia? Pembuangan Limbah tanpa Pengolahan yang tepat? Sampah ? atau apa? Yang jelas itu semua ulah kita. Trus, Apa yang bisa kita perbuat???
PPLH Mangkubumi, bersama segenep element mengajak untuk mencintai bumi ini, bukan karena bumi, namun karena diri kita sendiri membutuhkan BUMI. Dan kami mengutuk kepada siapaun yang menggagahi bumi dengan dalih apapun tanpa mempertimbangkan aspek-aspek keadilan Lingkungan. Dan kami Menuntut !!!
1. Diri kami, dan masyarakat, untuk lebih sadar dan adil dalam pengelolaan dan Pemanfaatan Lingkungan Hidup.
2. Pengusaha, untuk lebih arif dan bijaksana dalam rangka mengeksploitasi apapun yang ada dibumi ini. dengan kaidah-kaidah yang telah diatur bukan hanya untuk keuntungan semata.
3. Pemangku Kebijakan, untuk mengatur, dan menerbitkan regulasi yang yang berlandaskan kepentingan BUMI, bukan pengusaha ataupun Pemerkosa Alam. Serta menyusun ANGGARAN yang PRO LINGKUNGAN.
4. Penegak Hukum, untuk menindak tegas penjahat-penjahat Lingkungan. Jangan main mata, apalagi menjadikan mereka ATM, dengan mengorbankan masa depan bumi kita.

Sabtu, 31 Maret 2012

0 Diam atau Bergerak di tuduh Politis !!! so, MAJU TERUS

Dilematis, tohok seorang mahasiswa yang lepas berdiskusi dalam sebuah warung kopi dipinggiran kampus tempat ia menimba ilmu. dalam kalutan yang kian ramai ia meradangkan sebuah tekanan dari beberapa orang yang mungkin antek-antek penguasa yang bercokol di kerajaan kecil bumi pardikan ini.
Pardikan atau kemerdekaan memang telah kita dapatkan berpuluh-piluh tahun lalu, namun hakekat kemerdekaan berupa kesejahteraan rakyat belum sepenuhnya kita miliki. masih banyak masyarakat yang belum mampu untuk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. di satu sisi pemerintah belum mampu memberikan kebutuhan primer rakyat ditengah bergelimangya Sumberdaya Alam yang di anugrahkan Tuhan di bumi Nusantara. Parahnya penguasa malah berebut upeti masyarakat untuk memenuhi kantong-kantong mereka untuk sebuah syahwat akan kekayaan yang tak pernah ada habisnya.
Parahnya, saat kaum intelektual/Mahasiswa ingin melakukan kontrol sosial hanya satu kata yang diteriakan teman-teman yang lain "POLITIS" atau "JATAH KURANG" mungkin seperti inilah tohok teman, yang selalu acuh dan mau menang sendiri dah hanya mementingkan diri sendiri. Namun dalam sebuah diskusi demonstran yang menginginkan perubahan yang lebih baik. dari hasil ononai pemikiran dan diskusi yang berdarah-darah. sebuah ungkapan yang muncul dari kelesuan ini "Maju Terus, kesan nda kesan. Kami hanya ingin Indonesia Sejahtera".

0 koin untuk eSBeYe

Sabtu, 10 Maret 2012

1 Guyub Rukun Mlekotho Wong Tulungagung


“Guyub Rukun”, sebuah semboyan yang telah mengakar dalam perjalanan Kabupaten Tulungagung beberapa tahun belakangan ini yang membuat kita nyaman dalam alam bawah sadar. Rupanya kenyaman bawah sadar ini tidak digunakan untuk mesejahteraan rakyat namun dimanfaatkan oleh beberapa gelintir oknum pejabat dan birokrat untuk mengeruk anggaran daerah.
Pengerukan anggaran daerah ini sesungguhnya telah dilaksanakan sejak semboyan ini dikenalkan kepada kita. Hari ini mulai terungkap satu persatu, melalui media massa kita dapat melihat skandal korupsi yang ditangani oleh KPK dan MABES POLRI, oleh oknum pejabat PEMKAB Tulungagung senilai 20 Milyar.
Nilai sebenarnya lebih besar lagi, “sekitar 15 Milyar bantuan sosial yang diselewengkan pada tahun 2007, 20 Milyar pada tahun 2009 bersumber dari APBN, dan 15 Milyar APBD 2009” tutur seorang pejabat publik yang bersumber dari hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK RI). “Sebenarnya masih banyak penyelewengan yang lain namun nominalnya belum bisa ia sebutkan dan semakin gila-gilaan” tandasnya dengan nada yang geram.
Geram, geram, geram. Raut muka yang kami temui saat bertemu dengan masyarakat pinggiran hutan Tulungagung yang setiap taunya mendapat kiriman bencana alam yang bukan mereka penyebabnya. Pagi buta kami bertemu seorang paruh baya yang berlumuran lumpur kendaraanya, kamipun tergelitik untuk bertanya “Alah mas, dalane jeglong-jeglong gek wayah udan ngene pak yo musti gluprut endot” tutur pak Samuri sembari menghisap sebatang kretek.
Batangan-batangan keringat masyarakat untuk mencari nafkah hidupnya setiap hari tercucur membasahi tanah kota marmer dan sebagian disisihkan untuk membayar pajak dan restribusi kepada pemerintah dengan harapan dapat menikmati hasil kebijakan yang berasal dari pemikiran manusia-manusia terdidik yang telah menasbihkan dirinya sebagai ABDI MASYARAKAT bukan sebagai penguasa yang rakus memakan hak-hak rakyat.
Atas nama rakyat, itu yang sering didengung-dengungkan saat musim kampanye dalam pesta demokrasi apapun, namun saat telah mantap sebagai penguasa janji tinggalah panji yang ditancapkan di tiang sehingga diam. “Kami diam bukan berarti kami tidak tahu” tutur seorang mahasiswa kami meminta bukti bukan hanya omongan semata. Hal ini senada dengan seorang penjual sayur yang mendambakan kemakmuran. “anggaran negara kan banyak masak tak terasa sampai kesini”.
Kemakmuran bukan untuk segelintir birokrat namun untuk rakyat. “Wakil-wakil kita apakah hanya jadi tukang stempel birokrat kok seolah diam-diam saja mengamini kata penguasa”. Tutur tukang becak diperempatan BTA sebab ia merasa wakil rakyat selalu membiarkan saja dan nyaris tanpa konflik dengan penguasa.
Penguasa, apakah engkau tak dapat tersentuh dengan hukum ataukah oknum penegak hukum yang main mata dengan kalian. Kalau iya, kami akan mengadili sendiri kalian, sebelum itu terjadi kami memohon dengan sangat kepada pak Polisi, pak Jaksa, Pak Hakim, Pak Hakim untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya bukan seperti belati yang tajam kebawah namun tumpul diatas. Tuntaskan skandal kasus korupsi di Tulungagung bukan hanya yang nampak, namun juga aktor dibalik itu semua.
Wakil rakyat, jangan engkau keenakan duduk di kursi panas hanya untuk jadi tukang stempel birokrat. Kalian wakil kami dan seharusnya berpihak pada kami bukan pada penguasa. Buat kebijakan yang sesuai dengan kebaikan masyarakat Tulungagung, karena kalian yang mewakili kami.

Ataukah ? memang benar semua telah berGuyub Rukun Mlekotho wong Tulungagung.

Santri Mbeling

 

Maliki Nusantara Copyright © 2012 - |- Template created by Santri Mbeling - |- Powered by Blogger Templates